Semut Berebut Menjadi Pemimpin Rimba
Pertempuran – pertempuran terus terjadi, pertumpahan darah dan pengorbanan nyawa terus menjadi tradisi, tertawa ketika bisa membunuh lawannya, menjerit ketika kehilangan keluarganya, meratap ketika sang kekasih mati di tangannya, mendendam ketika si ayah dibunuh musuhnya, tidak akan pernah berhenti walau dunia terus berakhir pertempuran dan perebutan kekuasaan selalu terjalin tak pernah terbesit untuk menciptakan kedamaian.
Ketika Si Perkasa mulai berjalan perlahan menepak langkah dengan kegagahan dan kesombongan berdiri angkuh tanpa tatapan belas kasihan yang selalu memandang rendah sang semut yang selalu melintas di depannya, Sang perkasa berbuka mulut dan berbuah wajah ketika melihat si kecil mulai menyapa, ketidak perdulian mulai meraja dari diri sang singa, namun si singa perkasa tak pernah sadar bahwa sang semut mulai bertempur untuk menggantikan tahta sang perkasa tiada rasa ketakutan dengan postur tubuh yang kecil dan hamper tak nyata, namun si mungil semut terus berburu kekuasaan, untuk menjatuhkan sang singga perkasa. Mungkin kah ini terjadi ketika semut harus berhadapan wajah menentang sang singa perkasa.
Akhirnya bertempurlah semut dengan sang singa saling baku hantam dengan harapan dapat mengalahkan lawan, cita-cita tinggi dengan keserakahan terus menghujam pikirannya yang ingin menjadi penguasa bangsa, tak perduli apa yang harus terjadi tak perduli walau nyawa akan pergi, demi kekuasaan dan kesombongan harus terus berjuang walau darah tidak dapat mengalir lagi di tubuh mungil ini. Inilah yang selalu terjadi di dunia ini tak pernah sadar bahwa dirinya semangkin bertempur semangkin menghabiskan waktu untuk dapat bersenda gurau dengan sang peradu malam, tak perduli walau panas siang tak perduli walau dingin malam. Dengan alasan untuk kesejahteraan rakyat dan kaumnya dia rela mati dan rela merintih. Namun para prajurit semut tak pernah menyadari dengan mereka semangkin ramai bertempur, semangkin mereka banyak menghacurkan kehidupan dan perlengkapan, dan semangkin mereka merasa dirinya lebih mampu memimpin negeri ini dan memimpin rakyat ini semangkin besar pula mereka ingin menghacurkan negeri ini, karena dengan saling bertempur masing – masing kubu akan membutuhkan biaya yang besar, dan juga membutuhkan pengorbanan yang tinggi, semut tak menyadari bahwa dirinya sebenarnya tak perlu bertempur dengan sang singa perkasa, karena semangkin dirinya bertempur banyak menghabiskan waktu dan banyak menghabiskan biaya. Seandainya semut menyadari bahwa tanpa bertempur bisa mensejahterakan rakyatnya, dengan berkerja sama dan saling duduk bersama untuk memecahkan masalah negeri ini akan lebih baik.
Jadi ini lah ciri khas dari para pemimpin dan semut-semut Indonesia, masing-masing merasa ingin menjadi pemimpin dan terus mengacaukan perekonomian dan mengobrak abrik politik dan memunculkan ketidak percayaan rakyat terhadap pemimpin sekarang ini yang akhirnya menciptakan pertahanan diri dari pemimpin untuk menjaga dan mempertahankan jabatannya agar tidak tergusik oleh semut liar, yang akhirnya menelantarkan rakyat dan menghancurkan ketertiban nasional, dan mengobrak – abrik stabilitas dan kekeluargaan bangsa yang akhirnya tercipta emosional yang selalu ingin melindungi kaum dan menindas yang lemah yang akhirnya tiada henti menghacurkan pasar-pasar dan menamkan kebencian terhadap rakyat.


